Saturday, February 24, 2018

SAH MEMERDEKAKAN

https://hsssnwwwayyya58.blogspot.co.id/2017/12/fathul-qorib-mujib.html 



Kemerdekaan budak 

ويصح العتق من كل مالك جائز التصرف في ملكه ويقع بصريح العتق والكتابة مع النية وإذا أعتق بعض عبد عتق جميعه وإن أعتق شركا له في عبد وهو موسر سرى العتق إلى باقية وكان عليه قيمة نصيب شريكه ومن ملك واحدا من والديه أو مولودية عتق عليه.

Sah memerdekakan setiap yang dimiliki yang bebas melakukan pekerjaan dalam miliknya. Memerdekakan akan terjadi dengan kata yang jelas atau sindiran yang desertai niat. Ketika sebagian anggota dari budak itu dimerdekakan maka merdeka seluruh budak. Dan bila seseorang memerdekakan budak milik sarikat dan dia kaya maka jalanlah kemerdekaan seluruh budak dan bagi orang tersebut menanggung bagian temannya. Dan barang siapa memiliki satu budak dari orang tuanya atau dari anaknya mak hendaklah dia memerdekakan

1.    PENGERTIAN ‘ITQ 

‘Itq huruf ‘ain dikasrah, ialah memerdekakan budak. Pakar Bahasa Arab al-Azhari mengatakan: Kata ‘itq berasal dari perkataan orang Arab, ‘ataqal faras yaitu kuda lepas dan ‘ataqal farkh yakni anak burung terbang meninggalkan sarangnya. Disebut demikian, karena budak bisa bebas dengan jalan dimerdekakan sehingga ia bisa ke mana ia mau.

2.    ANJURAN MEMERDEKAKAN BUDAK DAN KEUTAMAANNYA

Allah swt berfirman:
"Maka tidaklah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar? Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir." (QS.Al-Balad: 11-16)
Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang memerdekakan seorang budak muslim, niscaya Allah akan memerdekakan satu anggota tubuhnya dari siksa neraka.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari V: 146 no: 2517, Muslim II: 24 dan 1509)
Dari Abu Musa al-Asy’ari ra bahwa Nabi saw bersabda, “Ada tiga golongan yang mana mereka (kelak) akan diberi pahala dua kali: (Pertama) seseorang dari kalangan Ahli Kitab yang beriman kepada Nabinya, dan mendapati Nabi saw lalu beriman (juga) kepadanya serta mengikutinya dan membenarkan Beliau, maka baginya mendapatkan dua pahala. (Kedua) hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya, maka baginya dua pahala. Dan (ketiga) seorang laki-laki yang memiliki budak perempuan, ia memberinya makan dengan makanan yang bergizi, lalu ia mendidiknya dengan baik serta mengajarkan dengan baik (pula), kemudian ia memerdekakannya dan menikahinya, maka baginya mendapat dua pahala.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari I: 190 no: 97, Muslim I: 134 no: 154 dan lafadz ini baginya, Tirmidzi II: 292 no: 1124 dan Nasa’i VI: 115) 

3.    BUDAK YANG PALING UTAMA DIMERDEKAKAN 

Dari Abu Dzar ra ia berkata: Saya pernah bertanya kepada Nabi saw, “(Ya Rasulullah), amalan apakah yang paling utama?” Rasulullah menjawab, “Iman kepada Allah, dan jihad di jalan-Nya.” Lalu saya bertanya (lagi), “Kemudian budak yang mana yang paling utama (dimerdekakan)?” Jawab Beliau, “Budak yang paling tinggi harganya dan paling terhormat di kalangan keluarganya.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari V: 148 no: 2518 dan Muslim I: 89 no: 84).

4.    WAKTU DIANJURKAN MEMERDEKAKAN BUDAK 

Dari Asma’ binti Abu Bakar ra ia berkata, “Nabi  saw pernah memerintah memerdekakan budak pada waktu ada gerhana.”

5.    SEBAB-SEBAB KEMERDEKAAN BUDAK

Kemerdekaan budak bisa terjadi, pertama, karena dimerdekakan oleh tuannya demi mendambakan ridha Allah, sebagaimana telah dikupas oleh hadist-hadist yang lalu tentang keutamaannya.
Sebab yang kedua, karena kepemillikan. Yaitu barangsiapa yang mendapatkan bagian rampasan perang yang di antaranya ada seorang mahramnya, maka dengan sendirinya mahram itu termerdekakan.
Dari Samurah bin Jundab ra, dari Nabi saw, Beliau bersabda, “Barangsiapa memiliki budak dari keluarga yang haram (dinikahi olehnya), maka jadi merdekalah ia.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 2046, ‘Aunul Ma’bud X: 480 no: 3830, Tirmidzi II: 409 no: 1376 dan Ibnu Majah II: 843 no: 2524)
Sebab yang ketiga, kemerdekaan seorang hamba secara total bisa terjadi melalui proses sebagai berikut: seorang budak dimiliki dua tuan, lalu satu memerdekakan bagiannya, kemudian ia punya dana untuk menembus hamba itu dari tuan yang menjadi rekan sekutunya itu,  lantas ia serahkan dana termaksud kepadanya, maka merdekalah budak itu secara total:
Dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa memerdekakan bagiannya pada seorang hamba, dan ia mempunyai dana yang cukup buat harga hamba itu, maka ditaksirlah harga hamba itu dengan penaksiran yang pantas, lalu ia bayar hak-hak orang-orang yang berserikat dengannya dan merdekalah hamba itu; tetapi jika tidak, termerdekalah hamba itu sebanyak yang ia merdekakan.” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari V: 151 no: 2522, Muslim II: 1139 no: 1501, ‘Aunul Ma’bud X: 466 no: 3921 dan Tirmidzi II: 400 no: 1361).
Kalau orang yang memerdekakan itu tidak punya dana untuk memerdekakannya secara keseluruhan, maka merdekalah si budak itu sesuai dengan kadar yang telah dimerdekakan oleh orang itu, dan ia wajib berusaha keras bekerja mengumpulkan dana untuk menembus sebagiannya lagi kepada tuannya:
Dari Abu Huraitah ra bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa memerdekakan sebagian pada seorang budak, maka penyelesaiannya tergantung pada hartanya, jika ia mempunyai harta; jika tidak, maka nilai hamba itu ditaksir, kemudian disuruh berusaha dengan tidak menyulitkan atasnya.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari V: 156 no: 2527, Muslim II: 1140 no: 1503, ‘Aunul Ma’bud X: 452 no: 2919, Tirmidzi II: 401 no: 1358 dan Ibnu Majah II: 844 no: 2527).
6.    TADBIR
Tadbir ialah upaya memerdekakan budak yang digantungkan dengan masa kematian. Sebagian misal ada seorang tuan berkata kepada budaknya, "jika aku meninggal dunia, maka engkau merdeka." Jadi, jika kemudian tuannya meninggal dunia, maka dengan sendirinya ia menjadi merdeka, jika harganya tidak lebih dari sepertiga jumlah hartanya. (Manurus Sabil II: 116)
Dari Imran bin Husain, bahwa ada seorang laki-laki pernah mempunyai enam hamba sahaya. Ia tidak memiliki harta kecuali mereka. Kemudian ia memerdekakan mereka bertiga ketika hampir meninggal dunia. Maka Rasulullah saw membagi mereka menjadi tiga bagian, kemudian Rasulullah undikan antara mereka, lalu Beliau memerdekakan dua orang dan tetapkan empat orang sebagai hamba sahaya, dan Beliau berkata kepadanya dengan perkataan yang keras (yakni atas perbuatannya).” (Shahih: Mukhtashar Muslim no: 895, Muslim III: 1288 no: 1668, ‘Aunul Ma’bud X: 500 no: 1375 Tirmidzi II: 409 no: 3939 dan Nasa’i  IV: 64).

7.    BOLEH MENJUAL HAMBA MUDABBAR DAN BOLEH MENGHIBAHKANNYA

Dari Jabir bin Abdullah ra ia berkata, “Telah sampai (informasi) kepada Nabi saw bahwa ada seorang laki-laki dari kalangan sahabatnya memerdekakan hambanya secara mudabbar, ia tidak mempunyai harta selain (hamba) itu. Oleh sebab itu, Beliau kemudian menjualnya dengan harga delapan ratus Dirham, lalu uangnya Beliau kirimkan kepadanya.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari XIII: 179 no:7186, Muslim II: 692 no: 997 ‘Aunul Ma’bud X: 495 no: 3938).
Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 935 – 940

WALAK

https://hsssnwwwayyya58.blogspot.co.id/2017/12/fathul-qorib-mujib.html 




“فصل”
 والولاء من حقوق العتق وحكمه حكم التعصيب عند عدمه وينتقل الولاء عن المعتق إلى الذكور من عصبته وترتيب العصبات في الولاء كترتيبهم في الإرث ولا يجوز بيع الولاء ولا هبته.

Fasal 

Waris Walak adalah akibat dari memerdekakan budak. Dan hukumnya seperti hokum asobah ketika tidak ada yang menghalanginya dan akan pindahdari pemerdeka laki laki ke laki laki dari asobahnya. dan tertib asobah dalam walak seperti tertib dalam waris. Dan walak tidak boleh dijual atau diberikan key an g lain.

MU’TIQ ATAU WALA’
 
A.    PENGERTIAN
Al-Wala atau Al-Mu’tiq adalah kekerabatan karena sebab hukum (hukmiah). Disebut juga wala al-'itqi dan wala an-ni'mah. Yang menjadi penyebab adalah kenikmatan pembebasan budak yang dilakukan seseorang. Maka dalam hal ini orang yang membebaskannya mendapat kenikmatan berupa kekerabatan (ikatan) yang dinamakan wala al-'itqi. Orang yang membebaskan budak berarti telah mengembalikan kebebasan dan jati diri seseorang sebagai manusia. Karena itu Allah SWT menganugerahkan kepadanya hak mewarisi terhadap budak yang dibebaskan, bila budak itu tidak memiliki ahli waris yang hakiki, baik adanya kekerabatan (nasab) ataupun karena adanya tali pernikahan.
Dalam Kitab Biadaytul Mujtahid dijelaskan, Mu'tiq atau Wala' adalah hubungan antara dua orang seperti hubungan nasab. Hubungan kekerabatan secara hukum (qarabah hukmiyah) ini terjadi karena dua sebab. Pertama, kekuatan, kekuasaan, dan berbuat baik, yang diantaranya pemberian status "merdeka" terhadap seseorang. Dengan demikian dia besetatus mantan budak yang dimerdekakan (maula al-ataqah). Konsekuensinya, yang memerdekakan menjadi "tuan" (wala'/mu'tiq') terhadap "mantan hamba" yang dimerdekakan itu. Kedua, akad (perjanjian, transaksi), seperti ucapan seseorang kepada orang lain, "Anda adalah Wala' k, jika aku meninggal, Anda menjadi pewarisku, dan jika aku melakukan tindak pidana , Anda menjadi penanggung diyatku. Transaksi seperti ini dalam hukum islam (fiqih) disebut maula al-muwalah.

B.     WALA' BAGI ORANG YANG MEMERDEKAKAN HAMBA 
Ulama' berpendapat bahwa seseorang yang telah memerdekakan hambanya, atas nama dirinya, hak wala'nya adalah untuknya. Ia mewarisi hak milik hamba tersebut apabila bekas hambanya itu tidak mempunyai ahli waris. Ia juga dapat menjadi pewaris ashabah jika hamba itu mempunyai ahli waris yang tidak sampaimenghabiskan seluruh hartanya.
Diberikanya hak wala' kepada orang yang membebaskan hamba itu, didasarkan kepada hadis sahih riwayat Barirah r.a. :
إِنَّمَا الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ (رواه البخاري و مسلم)

"Wala' itu hanya untuk orang yang memerdekakan".(HR. Bukhari dan Muslim)
Kemudian fuqaha berselisih pendapat tentang seseorang yang memerdekakan hamba atas nama orang lain.
Malik berpendapat bahwa Wala' itu untuk orang yang memerdekakan, bukan untuk orang yang menjadi wala' (atas nama) orang yang memerdekakan.
Menurut Abu Hanifah dan Syafi'I, jika ia membebaskanya dengan sepengetahuan orang yang membebaskan, maka wala' tersebut untuk orang yang melangsungkan pembebasanya.

Ulama' Hanafian dan Syafi'iyah berpegangan pada sabda Nabi Saw :
الْوَ لَاءُ لُحْمَةٌ كَلُحْمَةِ النَّسَبِ  (أخرجه الدرم)

"Wala' adalah karib kerabat seperti karib kerabat nasab". (HR. Ad-Darimi)
Kata mereka, nasab tidak dapat dipertalikan dengan orang merdekatanpa persetujuanya, begitu pula wala'.
Secara substansial pembebasanya itu adalah kemerdekaan yang terjadi pada miliknorang yang memerdekakan, seharusnyalah wala' itu untuk yang memerdekakan apabila ia memebebaskanya atas nama dirinya.
Sedang malik berpegangan, jika seseorang memerdekakan hamba, berartia ia telah kehilangan/melepaskan hak kepemilikanya terhadap hamba itu, jadi ia serupa dengan wakil. Karena itu, fuqaha sependapat bahwa jika pemilik hamba itu member izin pada seorang wakil untuk memerdekakan hambanya itu, maka wala'nya untuk yang memerdekakan (pemberi izin ), bukan untuk wakilnya yang melangsungkan pemerdekaan.
C.     ORANG YANG MEMERDEKAKAN SENDIRI HAMBANYA
Ulama' berselisih pendapat dalam hal apabila seorang tuan berkata kepada hambanya, "Engkau merdeka".
Malik berpendapat, Wala' dan diyatnya untuk kaum muslim. Ia menganggap tuan tersebut sebagai orang yang memedekakan atas nama kaum muslim. Kecuali jika ia menghendaki arti pembebasan saja, maka wala'nya untuk dia.
Sedang menurut Syafi'I dan Abu Hanifah, bagaimanapun juga wala'nya untuk orang yang membebaskan. Pendapat seperti ini juga dikemukakan oleh Ahmad, Dawud, dan Abu Tsaur.
Fuqaha lain berpendapat bahwa hamba tersebut dapat memberikan wala' sesukanya.  Jika ia tidak memberikan wala' kepada seorangpun, maka wala'nya untuk kaum muslim. Pendapat ini dikemukakan oleh al-Laits dan al-auza'i. sedang Ibrahim dan asy-Sya'bi berpendapat bahwa tidak apa-apa menjual wala' dari hamba yang dimerdekakan dan menghibahnya.

D.    WALA' HAMBA MUSLIM YANG DIMERDEKAKAN OLEH ORANG NON MUSLIM
Ulama' berselisih pendapat tentang wala' hamba muslim ketika ia dimerdekakan oleh orang Nasrani sebelum wala' itu dijual. Untuk siapakah wala'nya?
Menurut Malik dan para pengikutnya, wala'nya itu untuk kaum muslimin. Jika tuanya masuk islam sesudah itu, maka wala'nyabmaupun warisanya tidak kembali kepadanya.
Jumhur Fuqaha berpendapat bahwa wla'nya untuk tuanya. Jika ia masuk islam, ia memeperoleh wariasnya.
Jumhur fuqaha berpegangan bahwa wala' itu seperti nasab. Sebab, jika seorang ayah masuk islam sesudah keislaman anakanya, ayah tersebut mewarisinya. Demikia itu berlaku pula untuk hamba.
Dalam hal ini Malik berpegangan pada keumuman firman Allah.
"Dan Allah sekali-kali tidak akan member jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman". (QS. An-Nisa':141)
Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, diantara keduanya tidak ada wala’. Dan menurut madzhabnya , hamba tersebut dapat menyerahkan kesetiaanya kepada siapa saja yang disukainya.
Dalam hal ini Asyhab berbeda pendapat dengan Malik. Ia mengatakan bahwa Hamba tersebut masuk islam sebelum tuanya, maka hak wala’nya tidak kembali kepada tuanya selamanya.
Tetapi menurut Ibnul Qasim wala’nya, kembali kepada tuanya. Dan ini, kesimpulan pendapat Malik krena dalam hal ini ia memeprtimbangkan waktu terjadinya pembebasan. 
E.     PEWARISAN WALA’ BAGI PEREMPUAN
Jumhur Ulama sependapat bahwa perempuan-perempuan tidak termasuk kelompok yang mewarisi hak wala’, kecuali perempuan yang melangsungkan diri pemerdekaan hamba atau orang-orang yang ditarik oleh perempuan-perempun ynag melangsungkan pembebasanya, baik dengan wala’ atau dengan nasab. Seperti orang yang memeberikan kemerdekaan terhadap orang ynag memerdekakan dirinya sendiri.
Jumhur fuqaha berpegang bahwa wala’ itu hanya terjadi karena kenikmatan dari orang yang memerdekakan atas orang yang diberi kemerdekaan. Dan kenikmatan ini hanya ada pada orang yang memerdekakan secara langsung atau orang tersebut menjadi sebab yang menentukan sebab-sebab kemerdekaan, yaitu kelompok ashabah.
F.      WALA’ KARENA SENIORITAS 
Masalah ini menurut jumhur fuqaha, bagian wala’ saudara laki-laki yang mati tidak diwarisi oleh anak laki-lakinya, dan hak memperolah bagian tersebut kembali kepada saudara laki-lakinya, karena ia lebih berhak dibanding anak laki-laki tersebut. Berbeda halnya warisan biasa, karena penghalang dalam warisan dipertimbangkan dekatnya hubungan dengan simayit. Sedang waris wala’ penghalanh dipertimbangkan menurut dekatnyahubungan dari orang yang memerdekakan hamba secara langsung. Pendapat ini diriwayatkan dari kalangan sahabat. Antara lain Umar bin Khatab, Ali, Usman, Ibnu mas’ud dan Zaid bin Tsabit.
Sedangkan menurut Syuriah dan golongan fuqaha Basrah, hak saudara laki-laki yang mati itu untuk anak-anaknya, mereka berpegangan bahwa antara waris wala’ dan waris biasa mestinya ada kesamaan. 
G.    PENARIKAN WALA’
Persoalan terkenal lainya dalam hal ini adalah yang oleh fuqaha dengan istilah penarikan wala’. Gambaranya adalah jika seorang hamba laki-laki mempunyai anak laki-laki dari hamba perempuan. Kemudian hamba perempuan ini dimerdekakan, dan sesudah itu hamba laki-laki tersebut dimerdekakan juga.
Dalam hal ini umlam berbeda pendapat, untuk siapa wala’ anak-anak laki-laki jika ayahnya dimerdekakan. Demikia itu karena fuqaha sependapat bahwa wala’ anak-anak tersebut sesudah sang ibu merdeka, dalam arti bayi itu masih dalam perut ibunya yang belum tersentuh kehambaan, ini terjadi manakala hamba laki-laki mengawininya sesudah dibebaskan, sedang ia belum dibebaskan, maka wala’ tersebut menjadi hak orang yang memerdekakan ibunya.
Fuqaha berselisih pemndapat apabila ayah dibebaskan, apakah wala’ anak-anakanya itu tertarik kepada tuanya hamaba itu atau tidak?
Jumhur fuqaha seperti Imam Malik, Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan para pengikutnya berpendapat bahwa wala’ tersebut tertarik. Dan pendapat ini dikemukakan oleh Ali, Ibnu Mas’ud, Zubair dan Usman bin Affan.
Sedangkan Atha’, Ikrimah, Ibnu Syihab, dan segolongan fuqaha berpendapat bahwa wala’nya tidak tertarik. Pendapat ini diriwayatkan dari Umar dan diputuskan oleh Abdul Malik bin Marwan ketika Qubaishah bin Dzuaib menceritakan demikian dari Umar bin Khatab. Meski dari Umar juga diriwayatkan pendapatnya seperti pendapat Jumhur. Jumhur fuqaha beralasan bahwa wala’ itu sma dengan nasab, sedang nasab adalah untuk ayah, bukan untuk ibu. Sementara golongan kedua berpendapat sebaliknya karena mengikuti akibat kemerdekaan ibunya.

BUDAK MUDABBAR

https://hsssnwwwayyya58.blogspot.co.id/2017/12/fathul-qorib-mujib.html 


“فصل”
 ومن قال لعبده: إذا مت فأنت حر فهو مدبر يعتق بعد وفاته من ثلثه ويجوز له أن يبيعه في حال حياته ويبطل تدبيره وحكم المدبر في حال حياة السيد كحكم العبد القن .

Fasal
Barang siapa berkata kepada budaknya: “ sewaktu sya mati maka kamu merdeka” maka budak tersebut menjadi budak mudabbar ( bebas setelah mati ) yang akan merdeka setelah mati tuannya 1/3 nya. Dan boleh mudabbar di jual sewaktu tunnya masih hidup dan akan membatalkan mudabbarnya. Hokum mudabbar diwktu tuannya hidup adalah seperti budak murni.


(فصل): في أحكام التدبير

وهو لغة النظر في عواقب الأمور، وشرعاً عتق عن دبر الحياة، وذكره المصنف بقوله

(ومن) أي والسيد إذا (قال لعبده) مثلاً (إذا مت) أنا (فأنت حر فهو) أي العبد (مدبر بعتق بعد وفاته) أي السيد (من ثلثه) أي ثلث ماله إن خرج كله من الثلث وإلا عتق منه بقدر ما خرج من الثلث إن لم تجز الورثة، وما ذكره المصنف هو من صريح التدبير، ومنه أعتقتك بعد موتي، ويصح التدبير بالكناية أيضاً مع النية كخليت سبيلك بعد موتي

(ويجوز له) أي السيد (أن يبيعه) أي المدبر (في حال حياته وبطل تدبيره) وله أيضاً التصرف فيه بكل ما يزيل الملك كهبة بعد قبضها أو جعله صداقاً والتدبير تعليق عتق بصفة في الأظهر، وفي قول وصية للعبد بعتقه فعلى الأظهر لو باعه السيد ثم ملكه لم يعد التدبير على المذهب.

(وحكم المدبر في حالي حياة السيد حكم العبد القن) وحينئذ تكون أكساب المدبر للسيد، وإن قتل المدبر فللسيد القيمة أو قطع المدبر، فللسيد الأرش ويبقى التدبير بحاله، وفي بعض النسخ وحكم المدبر في حياة سيده حكم العبد القن.


Pengertian Budak Mudabbar

(Fasal) menjelaskan hukum-hukum at tadbir.

At tadbir secara bahasa adalah melihat pada akhir dari perkara-perkara. Dan secara syara’ adalah memerdekakan setelah meninggal dunia.

Mushannif menjelaskannya dengan perkataan beliau, “barang siapa, maksudnya majikan ketika berkata pada budaknya seumpama, ‘ketika aku meninggal dunia, maka engkau merdeka,’ maka budak tersebut adalah budak mudabbar.

Yang akan merdeka setelah wafatnya sang majikan dari sepertiganya, maksudnya sepertiga harta sang majikan, jika seluruh bagian budak tersebut masuk dalam hitungan dari sepertiga.

Jika tidak termasuk, maka yang merdeka adalah sebagian yang masuk dalam hitungan sepertiga jika memang ahli waris tidak mengizini semuanya.

Yang telah disebutkan oleh mushannif adalah bentuk tadbir yang sharih. Dan di antaranya adalah ungkapan, “aku memerdekakanmu setelah aku meninggal dunia.”

Tadbir Secara Kinayah

Tadbir juga sah dengan bentuk ungkapan kinayah yang disertai dengan niat seperti, “aku bebaskan jalanmu setelah aku meninggal dunia.”

Baginya, maksudnya bagi sang majikan diperkenankan menjual budak mudabbar saat ia masih hidup dan tadbirnya menjadi batal.

Dan baginya juga diperkenankan mentasharrufkan budak mudabbar tersebut dengan bentuk pentasharrufan yang bisa menghilangkan kepemilikan seperti hibah setelah diterima dan menjadikannya sebagai mas kawin.

Mudabbar adalah menggantungkan kemerdekaan budak dengan sifat menurut pendapat al adhhar (paling zhahir).

Dan menurut satu pendapat adalah wasiat kepada si budak untuk merdeka.

Sehingga, menurut pendapat al adhhar, seandainya sang majikan menjual budak mudabbar, kemudian ia memilikinya lagi, maka status tadbir tidak kembali lagi menurut pendapat al madzhab.

Saat Majikan Masih Hidup

Budak mudabbar saat majikannya masih hidup hukumnya adalah budak murni.

Kalau demikian, hasil dari pekerjaan budak mudabbar adalah milik sang majikan.

Jika budak mudabbar itu dibunuh, maka majikan berhak menerima ganti rugi harganya.

Atau anggota budak mudabbar tersebut dipotong, maka majikan berhak mendapatkan ganti ruginya.

Dan status mudabbarnya tetap seperti semula.

Dalam sebagian redaksi diungkapkan, “budak mudabbar saat majikannya masih hidup hukumnya adalah budak murni.”

BUDAK KITABAH

https://hsssnwwwayyya58.blogspot.co.id/2017/12/fathul-qorib-mujib.html 



“فصل”
 والكتابة مستحبة إذا سألها العبد وكان مأمونا مكتسبا ولا تصح إلا بمال معلوم ويكون مؤجلا إلى أجل معلوم أقله نجمان وهي من جهة السيد لازمة ومن جهة المكاتب جائزة فله فسحها متى شاء وللمكاتب التصرف فيما في يده من المال وعلى السيد أن يضع عنه من مال الكتابة ما يستعين به على أداء نجوم الكتابة ولا يعتق إلا بأداء جميع المال.

Fasal
Budak Kitabah( cicilan ) itu adalah sunnah. Ketika mukatab diminta seorang budak dan budak itu bias dipercaya dan bis bekerja. Tidak sah kitabah kecuali dengan harta yang diketahui dan kitabah di tangguhkan sampai waktu yang ditentukan. Waktu paling sedikit adalah 2 tanggal yaitu kitabah yang muncul dari tuan itu sudah lazim. Dan dari arah budak boleh dan baginya berhak membatalkan kapan saja. Dan bagi hamba mukatab mempunyai kesempatan menasarufkan apa yang ada di tangannya. Dan bagi tuan hendaklah membebaskan harta kitabah untuk menolong tanggal cicilan. Dan tidak akan merdeka kecuali dengan lunasnya semua harta cicilan.


(فصل): في أحكام الكتابة بكسر الكاف في الأشهر وقيل بفتحها كالعتاقة. وهي لغة مأخوذة من الكتب وهو بمعنى الضم والجمع، لأن فيها ضم نجم إلى نجم وشرعاً عتق معلق على مال منجم بوقتين معلومين فأكثر

(والكتابة مستحبة إذا سألها العبد) أو الأمة (وكان) كل منهما (مأموناً) أي أميناً (مكتسباً) أي قوياً على كسب ما يوفي بما التزمه من أداء النجوم (ولا تصح إلا بمال معلوم) كقول السيد لعبده كاتبتك على دينارين مثلاً (ويكون) المال المعلوم (مؤجلاً إلى أجل معلوم أقله نجمان) كقول السيد في المثال المذكور لعبده تدفع إليّ. الدينارين في كل نجم دينار فإذا أديت ذلك فأنت حر (وهي) أي الكتابة الصحيحة (من جهة السيد لازمة) فليس له فسخها بعد لزومها إلا أن يعجز المكاتب عن أداء النجم أو بعضه عند المحل، كقوله عجزت عن ذلك، فللسيد حينئذ فسخها، وفي معنى العجز امتناع المكاتب من أداء النجوم مع القدرة عليها

(و) الكتابة (من جهة) العبد (المكاتب جائزة فله) بعد عقد الكتابة تعجيز نفسه بالطريق السابق وله أيضاً (فسخها متى شاء) وإن كان معه ما يوفي به نجوم الكتابة، وأفهم قول المصنف متى شاء أن له اختيار الفسخ، أما الكتابة الفاسدة فجائزة من جهة المكاتب والسيد (وللمكاتب التصرف فيما في يده من المال) ببيع وشراء وإيجار ونحو ذلك لا بهبة ونحوها، وفي بعض نسخ المتن، ويملك المكاتب التصرف فيما فيه تنمية المال، والمراد أن المكاتب يملك بعقد الكتابة منافعه وأكسابه، إلا أنه محجور عليه لأجل السيد في استهلاكها بغير حق

(ويجب على السيد) بعد صحة كتابة عبده (أن يضع) أي يحط (عنه من مال الكتابة ما) أي شيئاً (يستعين به على أداء نجوم الكتابة) ويقوم مقام الحط أن يدفع له السيد جزءاً معلوماً من مال الكتابة، ولكن الحط أولى من الدفع، لأن القصد من الحط الإعانة على العتق وهي محققة في الحط موهومة في الدفع (ولا يعتق) المكاتب (إلا بأداء جميع المال) أي مال الكتابة بعد القدر الموضوع عنه من جهة السيد.

Pengertian Mukatab

(Fasal) menjelaskan hukum-hukum kitabah, dengan terbaca kasrah huruf kafnya menurut pendapat yang paling masyhur. Dan menurut satu pendapat dengan terbaca fathah huruf kafnya seperti lafadz “al ‘ataqah.”

Kitabah menurut bahasa adalah lafadz yang diambil dari lafadz “al katbu”, yaitu bermakna mengumpulkan, karena di dalam akad kitabah terdapat unsur mengumpulkan satu cicilan dengan cicilan yang lain.

Dan secara syara’ adalah merdekakan budak yang digantungkan terhadap harta yang dicicil dengan dua waktu yang sudah diketahui atau lebih.

Hukum Kitabah

Al kitabah hukumnya disunnahkan ketika budak laki-laki atau perempuan meminta untuk melakukannya.

Dan masing-masing dari keduanya dapat dipercaya dan bisa bekerja, maksudnya mampu bekerja untuk melunasi cicilan yang ia sanggupi.

Syarat Akad Kitabah

Akad kitabah tidak sah kecuali dengan cicilan harta yang sudah diketahui, seperti ucapan sang majikan kepada si budak, “aku melakukan akad kitabah denganmu dengan membayar dua dinar,” semisal.

Harta yang sudah diketahui tersebut diberi jangka waktu yang diketahui, minimal dua kali cicilan.

Seperti ucapan sang majikan pada budaknya di dalam contoh yang telah disebutkan, “kamu memberikan dua dinar padaku, setiap cicilan memberikan satu dirham. Kemudian setelah kamu telah melunasinya, maka kamu merdeka.”

Konsekuensi Akad Kitab

Akad kitabah yang sah hukumnya lazim bagi pihak majikan.

Sehingga baginya tidak diperkenankan merusak akad kitabah ketika sudah sah kecuali jika budak mukatabnya tidak mampu membayar seluruh atau sebagian cicilan ketika sudah jatuh tempo, seperti ucapan si budak, “aku tidak mampu melunasinya.” Maka bagi sang majikan diperkenankan merusak akad pada saat demikian.

Yang semakna dengan tidak mampu melunasi adalah si budak mukatab tidak mau melunasi cicilan padahal ia mampu untuk membayar.

Hukum Akad Kitabah bagi si Budak

Akad kitabah hukumnya jaiz bagi pihak si budak.

Sehingga, setelah akad itu terjadi maka bagi dia diperkenankan menganggap dirinya tidak mampu dengan cara yang telah disebutkan di atas. Dan juga diperkenankan merusak akad kapanpun ia mau.

Walaupun dia memiliki harta yang bisa digunakan untuk melunasi cicilan kitabahnya.

Ungkapan mushannif, “kapanpun ia mau”, memberi pemahaman bahwa sesungguhnya ia berhak memilih untuk merusak akad kitabah.

Sedangkan untuk akad kitabah yang fasid, maka hukumnya jaiz bagi pihak budak mukatab dan pihak sang majikan.

Bagi budak mukatab diperkenankan mentasharufkan harta yang berada ditangannya dengan menjual, membeli, menyewakan dan sesamanya, tidak dengan menghibbahkan dan sesamanya.

Dalam sebagian redaksi matan menggunakan ungkapan, “budak mukatab memiliki hak untuk mentasharrufkan dengan cara yang bisa menggembangkan harta.”

Yang dikehendaki adalah sesungguhnya dengan akad kitabah, si budak mukatab memiliki hak atas manfaat-manfaat dan hasil pekerjaannya, akan tetapi dia berstatus mahjur ‘alaih (tercegah) untuk merusakkan semua itu tanpa alasan yang benar karena melihat hak sang majikan.

Setelah akad kitabah dengan budaknya sah, maka bagi sang majikan wajib untuk memotong / memberi dispen dari cicilan kitabah sebagian yang bisa membantu si budak untuk melunasi cicilan akad kitabahnya.

Hukumnya sama dengan memotong, yaitu sang majikan memberikan bagian yang sudah diketahui dari harta kitabah kepada si budak.

Akan tetapi memotong itu lebih utama daripada memberikan harta, karena sesungguhnya tujuan dari potongan tersebut adalah menolong untuk memerdekakan, dan bentuk pertolongan itu nyata betul di dalam pemotongan sedangkan dalam pemberian hanya sekedar dugaan saja.

Budak mukatab tidak merdeka kecuali setelah membayar semua harta, maksudnya harta yang telah disepakati di dalam akad kitabah dengan mengecualikan kadar yang dipotong oleh pihak sang majikan

ANAK AMAT DARI TUANNYA

https://hsssnwwwayyya58.blogspot.co.id/2017/12/fathul-qorib-mujib.html 



“فصل”
 وإذا أصاب السيد أمته فوضعت ما تبين فيه شيء من خلق آدمي حرم عليه بيعها ورهنها وهبتها وجاز له التصرف فيها بالاستخدام والوطء وإذا مات السيد عتقت من رأس ماله قبل الديون والوصايا وولدها من غيره بمنزلتها ومن أصاب أمة غيره بنكاح فالولد منها مملوك لسيدها وإن أصابها بشبهة فولده منها حر وعليه قيمته للسيد وإن ملك الأمة المطلقة بعد ذلك لم تصر أم ولد له بالوطء في النكاح وصارت أم ولد له بالوطء بالشبهة على أحد القولين والله أعلم.

Fasal
Ketika tuan menyetubuhi amatnya dan melahirkan anak maka haram menjual, menggadaikan dan memberikan amat tersebut. Dan amat etrsebut boleh disuruh melayaninya dan wati. Dan ketika tuannya mati maka amat tersebut merdeka dari poko harta sebelum untuk membayar hutang dan wasiat. Dan anak amat yang bukan dari tuannya menduduki keduduka namat tersebu alias ikut merdeka. Dan barang siapa menikahi amat orang lain dan menghamilinya maka anak darinya milik tuan. Dan bila menghamilinya karena subhad maka anak darinya adalah merdeka dan dia menanggung harga anak terhadap tuanntya.Dan bila seseorang memiliki amat yang dicerai sesudahnya maka tidk menjadi umi walad untuk dia sebab wati dalam nikah. Dan amat akan menjadi umi walad untuknyasebab wati serupa menurut salah satu qoul. Alloh maha tahu.


(فصل): في أحكام أمهات الأولاد

(وإذا أصاب) أي وطىء (السيد) مسلماً كان أو كافراً (أمته) ولو كانت حائضاً أو محرماً له أو مزوجة، أو لم يصبها، ولكن استدخلت ذكره أو ماءه المحترم (فوضعت) حياً أو ميتاً أو ما يجب فيه غرة وهو (ما) أي لحم (تبين فيه شيء من خلق آدمي) وفي بعض النسخ من خلق الآدميين لكل أحد، أو لأهل الخبرة من النساء، ويثبت بوضعها ما ذكر كونها مستولدة لسيدها وحينئذ (حرم عليه بيعها) مع بطلانه أيضاً إلا من نفسها فلا يحرم ولا يبطل

(و) حرم عليه أيضاً (رهنها وهبتها) والوصية بها (وجاز له التصرف فيها بالاستخدام والوطء) وبالإجارة والإعارة وله أيضاً أرش جناية عليها وعلى أولادها التابعين لها، وقيمتها إذا قتلت وقيمتهم إذا قتلوا، وتزويجها بغير إذنها إلا إذا كان السيد كافراً، وهي مسلمة فلا يزوجها (وإذا مات السيد) ولو بقتلها له (عتقت من رأس ماله) وكذا عتق أولادها (قبل) دفع (الديون) التي على السيد (والوصايا) التي أوصى بها (وولدها) أي المستولدة (من غيره) أي غير السيد بأن ولدت بعد استيلادها ولداً من زوج أو من زنى (بمنزلتها) وحينئذ فالولد الذي ولدته للسيد يعتق بموته (ومن أصاب) أي وطىء (أمة غيره بنكاح) أو زنى وأحبلها فولدت (فالولد منها مملوك لسيدها) أما لو غر شخص بحرية أمة فأولدها، فالولد حر وعلى المغرور قيمته لسيدها.

(وإن أصابها) أي أمة غيره (بشبهة) منسوبة للفاعل كظنه أنها أمته أو زوجته الحرة (فولده منها حر وعليه قيمته للسيد) ولا تصير أم ولد في الحال بلا خلاف (وإن ملك) الواطىء بالنكاح (الأمة المطلقة بعد ذلك لم تصر أم ولد له بالوطء في النكاح) السابق (وصارت أم ولد له بالوطء بالشبهة على أحد القولين) والقول الثاني لا تصير أم ولد له، وهو الراجح في المذهب والله أعلم بالصواب.

وقد ختم المصنف رحمه الله تعالى كتابه بالعتق رجاء لعتق الله تعالى له من النار، وليكون سبباً في دخول الجنة دار الأبرار. وهذا آخر شرح الكتاب غاية الاختصار بلا إطناب، فالحمد لربنا المنعم الوهاب، وقد ألفته عاجلاً في مدة يسيرة، والمرجو ممن اطلع فيه على هفوة صغيرة أو كبيرة أن يصلحها إن لم يمكن الجواب عنها على وجه حسن، ليكون ممن يدفع السيئة التي هي أحسن، وأن يقول من اطلع فيه على الفوائد من جاء بالخيرات إن الحسنات يذهبن السيئات، جعلنا الله وإياكم بحسن النية في تأليفه مع النبيين والصديقين والشهداء والصالحين، وحسن أولئك رفيقاً في دار الجنان، ونسأل الله الكريم المنان الموت على الإسلام والإيمان بجاه نبيه سيد المرسلين وخاتم النبيين، وحبيب رب العالمين محمد بن عبد اللّه بن عبد المطلب بن هاشم السيد، الكامل الفاتح الخاتم، والحمد لله الهادي إلى سواء السبيل وحسبنا الله ونعم الوكيل. والصلاة والسلام على سيدنا محمد أشرف الآنام، وعلى آله وصحبه وسلم تسليماً كثيراً دائماً أبداً إلى يوم الدين ورضي الله تعالى عن أصحاب رسول الله أجمعين والحمد لله رب العالمين.


(Fasal) menjelaskan hukum-hukum ummu walad.

Ketika sang majikan, baik islam atau kafir, menjima’ budak perempuannnya, walapun saat haid, mahramnya, telah dinikahkan dengan orang lain, atau tidak sampai dijima’ akan tetapi si budak memasukkan penis atau sperma sang majikan yang muhtaram, kemudian si budak melahirkan bayi yang hidup, mati atau janin yang wajib diberi ganti rugi budak yaitu janin yang berupa daging yang sudah nampak bentuk anak Adam pada janin tersebut, dalam sebagian redaksi “dari bentuk anak Adam” bagi setiap orang atau bagi wania-wanita ahli khubrah, dan dengan melahirkan apa yang telah disebutkan tersebut si budak berstatus mustauladah bagi sang majikan, maka kalau demikian haram bagi sang majikan untuk menjualnya sekaligus juga batal.

Kecuali dijual pada si budak itu sendiri, maka hukumnya tidak haram dan tidak batal.

Konsekuensi Ummu Walad

Bagi sang majikan juga haram untuk menggadaikan, menghibahkan dan mewasiatkannya.

Bagi sang majikan diperkenankan memanfaatkan si budak sebagai pelayan, dijima’, disewakan dan dipinjamkan.

Bagi sang majikan juga berhak menerima ganti rugi dari luka yang dilakukan pada si budak dan anak-anaknya yang mengikut pada si budak, dan berhak mendapatkan ganti rugi harga si budak ketika ia dibunuh dan harga anak-anaknya ketika mereka dibunuh.

Dan diperkenankan menikahkannya tanpa seizin darinya (budak) kecuali ketika sang majikan orang kafir dan si budak adalah wanita muslim, maka ia tidak bisa untuk menikahkannya.

Apabila Majikan Meninggal

Ketika sang majikan meninggal dunia walaupun sebab dibunuh oleh si budak, maka budak tersebut merdeka dan dikeluarkan dari seluruh harta peninggalan majikannya (tidak dari sepertiganya saja), begitu juga anak-anaknya merdeka sebelum melunasi hutang-hutang yang menjadi tanggungan sang majikan dan wasiat-wasiat yang telah diwasiatkannya.

Status Anak Ummu Walad dari Selain Majikan

Anaknya maksudnya budak mustauladah dari selain majikannya, dengan arti setelah menjadi mustauladah, si budak melahirkan anak dari suaminya atau dari zina, hukumnya seperti ibunya.

Kalau demikian, maka anak yang dilahirkan adalah milik sang majikan dan akan merdeka sebab kematian sang majikan.

Status Anak Budak yang Hamil oleh Non Majikan

Barang siapa menjima’ budak perempuan orang lain dengan cara nikah atau zina dan membuatnya hamil kemudian si budak melahirkan anak darinya, maka anak tersebut milik majikan si budak.

Adapun seandainya ada seseorang yang ditipu dengan status merdekanya budak wanita, kemudian orang tersebut menyebabkan si budak melahirkan anak, maka anak tersebut menjadi merdeka, dan bagi orang yang tertipu tersebut harus mengganti harga sang anak kepada majikan budak perempuan itu.

Status Anak Budak Hamil karena Jimak Syubhat

Jika seseorang menjima’nya, maksudnya budak wanita orang lain dengan cara syubhat yang dinisbatkan pada si pelaku seperti ia menyangka bahwa sesungguhnya budak itu adalah budaknya atau istrinya yang merdeka, maka anak yang lahir dari budak wanita tersebut adalah merdeka.

Dan bagi orang tersebut harus mengganti harga si anak kepada majikan si budak, dan budak perempuan tersebut tidak menjadi ummu walad untuk saat itu tanpa ada perbedaan di antara ulama’.

Jika orang yang telah menjima’ budak perempuan dengan jalan pernikahan telah memiliki budak tersebut yang telah ditalak setelah itu, maka si budak tidak menjadi ummu walad sebab jima’ yang dilakukan dalam pernikahan sebelumnya.

Dan budak tersebut menjadi ummu walad sebab dijima’ dengan syubhat sebelumnya menurut salah satu dari dua pendapat.

Sedangkan menurut pendapat kedua, budak wanita tersebut tidak menjadi ummu walad bagi si majikan. Dan ini adalah pendapat yang unggul di dalam madzhab.

SYARAT MENJATUHKAN HUKUM

https://hsssnwwwayyya58.blogspot.co.id/2017/12/fathul-qorib-mujib.html 



Hukum dan saksi 

ولا يجوز أن يلي القضاء إلا من استكملت فيه خمس عشرة خصلة الإسلام والبلوغ والعقل والحرية والذكورية والعدالة ومعرفة أحكام الكتاب والسنة ومعرفة الإجماع ومعرفة الاختلاف ومعرفة طرق الاجتهاد ومعرفة طرف من لسان العرب ومعرفة تفسير كتاب الله تعالى وأن يكون سميعا وأن يكون بصيرا وأن يكون كاتبا وأن يكون مستيقظا ويستحب أن يجلس في وسط البلد في موضع بارز للناس ولا حاجب له ولا يقعد للقضاء في المسجد ويسوي بين الخصمين في ثلاثة أشياء في المجلس واللفظ واللحظ ولا يجوز أن يقبل الهدية من أهل عمله ويجتنب القضاء في عشرة مواضع عند الغضب والجوع والعطش وشدة الشهوة والحزن والفرح المفرطين وعند المرض ومدافعة الأخبثين وعند النعاس وشدة الحر والبرد ولا يسأل المدعي عليه إلا بعد كمال الدعوى ولا يحلفه إلا بعد سؤال المدعي ولا يلقن خصما حجته ولا يفهمه كلاما ولا يتعنت بالشهداء ولا يقبل الشهادة إلا ممن ثبتت عدالته ولا يقبل شهادة عدو على عدوه ولا شهادة والد لولده ولا ولد لوالده ولا يقبل كتاب قاض إلى قاض آخر في الأحكام إلا بعد شهادة شاهدين يشهدان بما فيه

Tidak boleh menjatuhkan hukum kecuali didalamnya sempurna 15 hal:
Islam,
Baligh,
Berakal,
Merdeka,
Laki Laki,
Adil,
Mengetahui hukum hukum yang ada dalam quran dan hadits,
Mengetahui Ijma’,
Mengetahui perselisihan,
Mengetahui Jalan Ijtihad,
Mengetahui Ujung Lisan arab,
Mengetahui Tafsir Kitab alloh,
Dia Mampu Mendengar,
Dia mampu melihat,
Dia mampu menulis dan dia dalam keadaan Sadar ( yidak Tidur).

Disunnahkan
Menempat di tengah tengah Negara ditempat yang jelas mudah di pandang manusia,
Tidak adan sesuatu yang kenghalangi.
Tidak diperkrnankan duduk di masjid pada wktu menghukumi.

Dan menyamakan antara dua yang bersengketa dalam tiga hal:

1. Tempat duduk.
2. Lafad
3. Penglihatan.

Tidak diperbolehkan menerima hadiah dari karyawannya.
Dan harus menjauhi 10 hal ketika meghukumi:

1. Marah
2. Lapar
3. haus
4. sangat berhasrat
5. sangat sedih
6. bahagia yang melampai batas
7. ketika sakit menahan buang air baik besar atau kecil
8. ketika ngantuk
9. sangat panas
10. sangat dingin.

Tidak diperbolekan menanyai terdakwa kecuali setelah sempurnanya dakwaan.
Dam tidak boleh menyumpahnya kecuali setelah menanyai yang mendakwa.
Tidak boleh mengajarkan hujah kepada yang bersengketa dan juga tidak boleh memahamkan kalimat kepada yang bersangkutan dan juga tidak boleh menyifati saksi.
Tidak boleh menerima saksi kecuali jelas tetap adilnya.
Tidak diperbolehkan menerima kesksian musuh memberikan saksi kepada musuhnya, kesaksian orang tua terhadap anak, kesaksian anak terhadap orang tua.
Dan tidak diperbolehkan menerima buku dari hakim lain dalam menghukumi kecuali setelah kesaksian dua saksi yang keduanya telah menyaksikan apa yanga ada didalamnya

SYARAT PEMBAGI

https://hsssnwwwayyya58.blogspot.co.id/2017/12/fathul-qorib-mujib.html 



“فصل” 
ويفتقر القاسم إلى سبعة شرائط: الإسلام والبلوغ والعقل والحرية والذكورة والعدالة والحساب فإن تراضى الشريكان بمن يقسم بينهما لم يفتقر إلى ذلك وإذا كان في القسمة تقويم لم يقتصر فيه على أقل من اثنين وإذا دعا أحد الشريكين شريكه إلى قسمة ما لا ضرر فيه لزم الآخر إجابته

Fasal
Orang yang membagi butuh 7 syarat:
1. Islam
2. Baligh
3. Berakal
4. Merdeka
5. Laki Laki
6. Adil
7. Bisa menghitung
Ketika kedua belah pihak telah merestui dengan siapa yang membagi maka didak butuh lagi syarat tersebut. Ketika dalam bagian terdapat bagian yang perlu dikalkulasi maka tidak perlu meringkas hitungan yang kurang dari dua. Dan ketika ada salah satu dari serikat mengaku sesuatu yang tidak membahayakan maka wajib bagi yang lain mengabulkannya

PENDAKWA

https://hsssnwwwayyya58.blogspot.co.id/2017/12/fathul-qorib-mujib.html 



“فصل” 
وإذا كان مع المدعي بينة سمعها الحاكم وحكم له بها وإن لم تكن له بينة فالقول قول المدعي عليه بيمينه فإن نكل عن اليمين ردت على المدعي فيحلف ويستحق وإذا تداعيا شيئا في يد أحدهما فالقول قول صاحب اليد بيمينه وإن كان في أيديهما تحالفا وجعل بينهما ومن حلف على فعل نفسه حلف على البت والقطع ومن حلف على فعل غيره فإن كان إثباتا حلف على البت والقطع وإن كان نفيا حلف على نفى العلم.

Fasal
Bila yang mendakwa ada penjelasan hendaklah didengarkan oleh hakim dan hokum tetap milik hakim terhadap penjelasan. Bila yang mendkwa tidak ada penjelasan maka ucapan yang dibenarkan adalah ucapan terdakwa dengan sumpahnya. Maka bila ia menolak maka sumpah dikembalikan ke pendakwa maka bila pendakwa bersumpah dan meliki hak. Bila ada dua orang yang mengaku terhadap sesuatu yang ada di salah satu orang maka ucapan yang dibenarkan adalah oerang yang sedang memegang sesuatu tersebut dengan sumpahnya. Dan ketika benda tersebut di kedua belah pihak maka keduanya disumpah dan benda tersebut dibagi kepanya mereka berdua. Barang siapa bersumpah terhadap dirinya sendiri maka dia sumpah terhadap sesuatu yang putus. Barang siap yang bersumpah terhadap pekerjaan orang lain maka bila pekerjaan itu ditetapkan maka dia bersumpah yang putus, dan bila sesuatu itu bersifat naïf maka dia bersumpah terhadap nafinya pengetahuan.

SYARAT SAH SAKSI

https://hsssnwwwayyya58.blogspot.co.id/2017/12/fathul-qorib-mujib.html 



“فصل”
 ولا تقبل الشهادة إلا ممن اجتمعت فيه خمس خصال: الإسلام والبلوغ والعقل والحرية والعدالة وللعدالة خمس شرائط أن يكون مجتنبا للكبائر غير مصر على القليل من الصغائر سليم السريرة مأمون الغضب محافظا على مروءة مثله

Fasal
Tidak sah memberikan kesaksian kecuali berkumpul padanya lima hal: 
1. Islam 
2. Baligh 
3. Berkal 
4. Merdeka 
5. Adil 
Dan bagi orang yang adil itu memiliki lima sarat: 
1. Menjahui dossa besar 
2. Tidak menetpi sedikit dosa kecil 
3. Selamat akidahnya 
4. Dipercaya marahnya 
5. Menjaga martabatnya.

SAKSI
1.      Pengertian Saksi
           Saksi atau al-shahadah yaitu orang yang mengetahui atau melihat. Yaiutu orang yang dimintakan hadir dalam suatu persidangan untuk memberikan keterangan yang membenarkan atau menguatkan bahwa peristiwa itu terjadi.
2.      Syarat-syarat Saksi Yang Adil
Adil adalah syarat mutlak bagi seorang saksi. Allah SWT berfirman :
وَاَشْهِدُوْاذَوَى عَدْلٍ مِنْكُمْ وَاَقِيْمُ ااشَّهَادَةَلِلَّهِ
Artinya: “ dan persaksikanlah dua orang saksi yang adil diantara kamu.”
(QS. Al-Thalaq [65]:2)
Orang adil tersebut hendaknya mempunyai syarat-syarat sebagai berikut:
a.       Muslim
Orang bukan Muslim tidak diterima kesaksiannya untuk orang Islam. Tetapi, Imam Abu Hanifah membolehkan orang kafir menjadi saksi bagi orang Islam.

b.      Merdeka
Hamba sahaya tidak diterima menjadi saksi. Karena saksi itu diserahi kekuasaan, sedangkan hamba sahaya tidak dapat diserahi kekuasaan.
c.       Dapat berbicara
d.      Bukan musuh terdakwa
e.       Dhabit
Dalam arti kuat hafalan dari apa yang dilihat maupun didengar, serta dapat memelihara yang dilihat atau didengarnya itu.
f.       Bukan orang fasik, penghianat/pezina.
3.      Kesaksian Tetangga dan Orang Buta
           Kesaksian seorang tetangga diperbolehkan dan dianggap sah selama memenuhi syarat-syarat seorang saksi. Yang tidak boleh adalah suami memberikan saksi atas istri atau sebaliknya, anak atas orang tuadan sebaliknya serta pembantu atas tuannya.
           Demikian halnya orang buta, menurut Imam Mailik dan Imam Ahmad boleh menjadi saksi asal dia dapat mendengar suara. Jadi kesimpulannya, selama masih ada saksi yang lain (yang tidak buta), sebaiknya saksi orang buta tidak diajukan dulu, kecuali kalau memang keadaan sangat membutuhkan kesaksiannya.
4.      Sanksi Terhadap Saksi Palsu
           Saksi palsu itu dianggap sebagai dosa besar, karena dampak negatifnya yang sangat luas. Dapat merugikan pihak-pihak tertentu, yang salah bisa bebas dari hukuman dan yang benar bisa dihukum, akan tersebar fitnah di masyarakat dan lain-lain. Sehingga persaksian palsu ini dosanya disamakan dengan dosa syirik dan durhaka pada orang tua.